Saturday, 25 November 2017

Unesco 4 Pilar Belajar Forex


A. Belajar Sepanjang Masa (Leben lang der Erziehung) B. Belajar untuk mengetahui bagaimana caranya belajar (lernen, wie man lernt) Belajar untuk mengetahui (Lernen zu wissen) dalam prosesnya tidak sekedar mengetahui apa yang bermakna tetapi juga sekaligus mengetahui apa yang tidak bermanfaat bagi Kehidupan Tenaga kependidikan (Guru, pelatih, instruktur, dll) harus menjadi inspirator dalam pengembangan, perencanaan, dan pembinaan pendidikan dan pembelajaran. Hal ini juga secara eksplisit di cantumkan dalam PP Nr. 19 tahun 2005, yaitu Guru sebagai Agent Pembelajaran harus menjadi Fasilitator, Pemacu, Motivator, dan Inspirator bagi peserta didik. Di samping itu guru dituntut untuk dapat berperan ganda sebagai kawan berdialog bagi siswanya dalam rangka mengembangkan penguasaan pengetahuan siswa. 2. Lernen zu tun (Belajar untuk melakukan) Lernen, adalah belajar untuk berkarya zu tun. Setelah Peserta didy itu belajar mengetahui, belajar untuk mencari hal-hal yang ingin diketahuinya, maka peserta didik tersebut diiringi dengan poteni yang dimilikinya, ia harus harus bisa menghasilkan suatu karya dari potensi yang dimilikinya. Belajar merupakan suatu proses untuk mengembangkan diri individu, khususnya belajar di sini yaitu dalam pendidikan formal (lingkungan sekolah). Didalam sebuah pembelajaran ada prinsip aktivitas (kegiatan) yang harus dicapai, Diantaranya: 183 harte Fähigkeiten. Keterampilan Yang Menuntut Fisik 183 Soft Skills. Keterampilan Yang Menuntut Intelektual Proses Belajar Lernen zu tun mengacu pada perubahan dalam ranah kognitif, peningkatan kompetensi serta, pemilihan dan penerimaan secara sadar terhadap nilai, sikap, penghargaan, perasaan serta kemauan untuk berbuat atau merespon suatu stimulus. Pendidikan membekali manusia untuk tidak sekedar mengetahui, tetapi lebih jauh untuk terampil berbuat atau mengerjakan sesuatu sehingga menghasilkan sesuatu yang bermakna bagi kehidupan. 3. Lernen zu sein (Belajar untuk menjadi pribadi yang utuh) Lernen zu sein adalah belajar untuk menjadi sesuatu atau berkembang menjadi pribadi yang seutuhnya. Dalam proses ini peserta didik diharapkan dapat belajar menjadi pribadi yang kreatif, berwawasan, memiliki pengetahuan yang utuh serta mampu menguasai ilmu yang di tempuhya selama proses pendidikan dilakasanakan. Pengusaaan pengetahuan dan keterampilan merupakan bagian dari proses menjadi pribadi yang utuh (Lernen zu sein). Menjadi pribadi yang utuh dalam hal ini dapat diartikan sebagai proses pemahaman terhadap kebutuhan dan jati diri. Belajar berperilaku sesuai norma dan kaidah yang berlaku dalam masyarakat, belajar menjadi pribadi yang berhasil sesungguhnya merupakan proses pencapaian aktualisasi diri. Selain itu, pendidikan dalam lernen zu sein juga harus bermuara pada bagaimana peserta didik menjadi lebih manusaiwi dan menjadi manusia yang berperikemanusiaan. 4. Lernen, zusammen zu leben (Belajar untuk hidup bersama) Setelah memahami konsep menjadi pribadi yang utuh diharapkan peserta didik mampu mempelajari bagaimana caranya untuk dapat hidup baik bersama masyarakat dalam lingkungannya. Dalam prosesnya kebiasaan hidup bersama, saling menghargai, terbuka, memberi dan menerima perlu dikembangkan disekolah. Kebiasaan inilah yang nantinya akan menghasilkan tumbuhnya sikap saling memahami, mengerti dan toleransi antar ras, suku dan agama. Pendidikan di sekolah juga harus merangsang weiche Skill Peserta Didik Sehingga Kelak Mereka Mampu Hidup Dan bekerja Sama Dengan Orang Lain. Bahkan mereka akan peka terhadap suka duka orang lain. Dari ke-empat pilar pendidikan yang disampaikan oleh UNESCO tersebut Indonesien sebagai negara Ketuhanan menambahkan satu pilar berupa Lernen zu glauben und zu überzeugen, der allmächtige Gott (Belajar untuk Beriman dan Bertakwa kepada tuhan yang maha Esa). Dari pilar inilah Negara Indonesien akan mewujudkan cita-cita bangsanya yang termaktub dalam UUD 1945 Alinea ke-4 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dengan berdasarkan kepada ketuhanan yang maha Esa. Untuk menghadapi dan menyesuaikan diri dengan tuntutan perkembangan dunia yang sangat cepat, Unesco (Nana Syaodih Sukmadinata , 2005) merumuskan empat pilar belajar Yaitu: belajar mengetahui (ich verdiene zu wissen), belajar berkarya (lernen zu tun), belajar hidup bersama (lernen, zusammen zu leben), dan belajar berkembang secara utuh (lernen zu sein). Keempat pilar belajar ini seyogyanya menjadi acuan penting bagi guru dalam melaksanakan proses pembelajaran siswa. 1. Belajar mengetahui (lernen zu wissen) Belajar mengetahui berkenaan dengan perolehan, penguasaan dan pemanfaatan informasi. Dewasa ini terdapat ledakan informasi dan pengetahuan. Halthu Bukan saja disebabkan karena adanya perkembangan yang sangat cepat dalam bidang ilmu dan teknologi, tetapi juga karena perkembangan teknologi yang sangat cepat, terutama dalam bidang elektronika, memungkinkan sejumlah besar informasi dan pengetahuan tersimpan, bisa diperoleh dan disebarkan secara cepat dan hampir menjangkau seluruh planet Bumi Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan pengetahuan. Pengetahuan diperoleh dengan berbagai upaya perolehan pengetahuan, melalui membaca, mengakses internet, bertanya, mengikuti kuliah, dll. Pengetahuan dikuasai melalui hafalan, tanya-jawab, diskusi, latihan pemecahan masalah, penerapan, dll. Pengetahuan dimanfaatkan untuk mencapai berbagai tujuan: memperluas wawasan, meningkatakan kemampuan, memecahkan masalah, belajar lebih lanjut, dll. Jacques Delors (1996), sebagai ketua komisi penyusun Lernen der Schatz innerhalb. Menegaskan adanya dua manfaat pengetahuan, yaitu pengetahuan sebagai alat (gemein) dan pengetahuan sebagai hasil (ende). Sebagai alat, pengetahuan digunakan untuk pencapaian berbagai tujuan, seperti: memahami lingkungan, hidup layak sesuai kondisi lingkungan, pengembangan keterampilan bekerja, berkomunikasi. Seutelai hasil, pengetahuan mereka menjadi dasar bagi kepuasaan memahami, mengetahui dan menemukan. Pengetahuan terus berkembang, setiap saat ditemukan pengetahuan baru Oleh karena itu belajar mengetahui harus terus dilakukan, bahkan ditingkatkan menjadi wissen viel (berusaha tahu banyak). 2. Belajar berkarya (Lernen zu tun) Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Belajar berkarya berhubungan erat dengan belajar mengetahui, sebab pengetahuan mendasari perbuatan. Dalam konsep komisi Unesco, belajar berkarya ini mempunyai makna khusus, yaitu dalam kaitan dengan vokasional. Belajar berkarya adalah balajar atau berlatih menguasai keterampilan dan kompetensi kerja. Sejalan dengan tuntutan perkembangan industri dan perusahaan, maka keterampilan dan kompetisi kerja ini, juga berkembang semakin tinggi, tidak hanya pada tingkat keterampilan, kompetensi teknis atau operasional, tetapi sampai dengan kompetensi profesional. Karena tuntutan pekerjaan didunia industri dan perusahaan terus meningkat, maka individu yang akan memasuki danatau telah masuk di dunia industri dan perusahaan perlu terus bekarya. Mereka harus mampu macht viel (berusaha berkarya banyak). 3. Belajar hidup bersama (Lernen, zusammen zu leben) Dalam kehidupan global, kita tidak hanya berinteraksi dengan beraneka kelompok etnik, daerah, budaya, ras, agama, kepakaran, dan profesi, tetapi hidup bersama dan bekerja sama dengan aneka kelompok tersebut. Agar mampu berinteraksi, berkomonikasi, bekerja sama dan hidup bersama antar kelompok dituntut belajar hidup bersama. Tiap kelompok memiliki latar belakang pendidikan, kebudayaan, tradisi, dan tahap perkembangan yang berbeda, agar bisa bekerjasama dan hidup rukun, mereka harus banyak belajar hidup bersama, gesellig (berusaha membina kehidupan bersama) 4. Belajar berkembang utuh (Lernen zu sein) Tantangan Kehidupan yang berkembang cepat dan sangat kompleks, menuntut pengembangan manusia secara utuh. Manusia yang seluruh aspek kepribadiannya berkembang secara optimal dan seimbang, baik aspek intelektual, emosi, sosial, fisik, maupun moral. Untuk mencapai sasaran demikian individu dituntut banyak belajar mengembangkan seluruh aspek kepribadiannya. Sebenarnya tuntutan perkembangan kehidupan global, bukan hanya menuntut berkembangnya manusia secara menyeluruh dan utuh, tetapi juga manusia utuh yang unggul. Untuk itu mereka harus berusaha banyak mencapai keunggulan (Exzellenz). Keunggulan diperkuat dengan moral yang kuat. Individu-individu global harus berupaya bermoral kuat atau ist moralisch Mohon bantu sebarkan di: Kommentar Navigation

No comments:

Post a Comment